IBADAH + PERAYAAN NATAL

28 Desember 2014

IBADAH MALAM NATAL

24 Desember 2014

GPdI SORENGAN AWARD

24 Desember 2014

LOMBA-LOMBA MENYAMBUT NATAL 2014

14-21 Desember 2014

Wednesday, October 7, 2015

Pukat

Matius 13 : 47-50
Oleh : Ibu Pdt.Victoria Arni Masrutti
Minggu, 9 Agustus 2015
“47. "Demikian pula hal Kerajaan Sorga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. 48. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang. 49. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, 50. lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.”
Pukat adalah jarring yang sering dipakai para nelayan untuk menangkap ikan. Ketika jarring dibentangkan/ditebarkan maka segala jenis ikan akan masuk di dalamnya dan nelayan mulai menarik jaring itu ke pantai dam mulai memisahkan ikan yang baik dan yang tidak.
Demikian juga perumpamaan ini menyatakan kembali kebenaran yang sangat ditekankan oleh Yesus bahwa tidak semua anggota kerajaan yang kelihatan merupakan anak-anak Tuhan yang sejati. Gereja-gereja dan organisai apapun belum tentu searti dengan umat Allah yang sejati.
Sebenarnya kerajaan surge terbentang untuk siapa saja, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang menjadi sasaran kasih karunia Allah. Di sini juga ada golongan orang-orang yang menyambut undangan Tuhan.
Yesaya 55 : 1 “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!”
Di sini da kata haus, yaitu haus akan pertolongan Tuhan, haus akan penyelamatan dari Tuhan. Syarat penting untuk mendapat keslamatan ialah merasa lapar dan dahaga rohani yang sejati.
Mazmur 34 : 17 “wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.”
Ayat ini cukup keras dan tegas bahwa wajah Tuhan sangat menentang orang-orang yang berbuat jahat, akan tetapi dengan wajah yang sama juga akan menyinari kita.
1 Korintus 9 : 27 “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”
“ditolak”  dalam bahasa Yunani (ADOKIMOS) ini mengandung arti gagasan “gagal dalam ujian”.
Paulus juga menggunakan istilah yang sama dalam 2 Korintus 13 : 5  “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”
Dimana dia menegaskan bahwa Kristus tidak tinggal dalam seseorang yang “gagal dalam ujian”
Demikian juga kita harus melatih diri kita untuk menguasai diri, jangan sampai orang lain menguasai kita karena kita gagal dalam ujian.
Yohanes 15 : 6 “Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar.”
Perumpamaan ini dengan jelas menegaskan bahwa Kristus tidak percaya kalau “sekali ranting selama-lamanya tetap ranting”, tetapi Yesus memberikan peringatan yang serius namun dengan penuh kasih bahwa ada kemungkinan orang yang meninggalkan imannya dan tidak tetap tinggal di dalam Yesus akan dicampakkan kedalam api neraka.
Hidup ini singkat, hidup seperti apakah yang sedang kita hadapi? Saat ini sudahkah Kristus menjadi pusat hidup kita? Dan sudahkah kita merindukan hidup bahagia dalam kelekatan bersama Kristus kelak?

“Tuhan selalu bertanggung jawab atas hidup anda, apakah anda menjalani hidup ini dengan penuh tanggung jawab?

Saturday, August 8, 2015

YOBEL

Yohanes 8 : 36
Oleh : Bpk.Pdt.Markus Suprapto
Minggu, 2 Agustus 2015
“Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.”
Waktu-waktu ini mengapa harus ada Yobel? Karena manusia saat ini sedang drop, dan tertindas oleh dosa-dosa yang mengikat sehingga tidak ada kemerdekaan.
Kata kemerdekaan adalah pembebasan, dulu kita hidup dalam penjajahan dosa, tetapi sekarang kita telah dibebaskan dari kutuk turunan.
Kadang kita diintimidasi oleh iblis atau divonis gagal, tetapi sesungguhnya kita bias menang kalau kita membuka diri untuk Tuhan berkarya dan beserta kita.
1.       Kita akan dilepaskan dari hutang-hutangnya.
Bagaimana kita akan mengalami Yobel besar? Yaitu kita harus diperdamaikan dulu dengan Tuhan kembali. Karena Yesus akan mendamaikan manusia dengan Allah dan Allah akan mengampuni, maka kitapun akan leluasa menghadap kepadaNya.
2.       Sudah diampuni dosa-dosanya.
Roma 8 : 19-21 : “19. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. 20. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, 21. tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah.”
Kalau kita sudah diampuni dosa kita, maka bawa hidup kita kepada Tuhan, berikan yang terbaik kepadaNya dan masuk dalam kemuliaanNya.
3.       Yobel adalah pembebasan dari segala ikatan.
Ulangan 28 : 11 : “Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu--di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu.”
Hari-hari ini banyak orang takut karena mendengar kabar-kabar yang menakutkan, kejadian-kejadian tindak kejahatan terjadi dimana-mana, bahkan mungkin takut masa depannya tidak jelas.
Tetapi jika kita takut kepada Tuhan maka Tuhan akan bertanggungjawab, dan jika kita taat kepada firman maka kita akan hidup dalam rencana Tuhan dan segala aspek kehidupan kita akan menjadi urusan Tuhan.

Hari ini mulailah melatih diri untuk hidup taat kepada Tuhan.Amin

Memandang Keajaiban Kuasa Tuhan

Mazmur 119 : 18

“Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.”
Alkitab mencatat kalimat singkapkanlah mataku, ini punya arti “memandang dengan jelas” tanpa ada penghalang. Demikian juga kita orang percaya akan dapat menyaksikan keajaiban Tuhan ketika kita mengalaminya secara pribadi.
Kita harus berupaya sedapat mungkin agar dapat memiliki pandangan illahi sampai kita dapat berkata “pertolonganMu begitu ajaib” karena kita benar-benar menikmatinya.
Lalu apa dampak pandangan illahi atas hidup kita?
1.       Sebagai jawaban atas doa kita.
(2 Raja-raja 6 : 17) “Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”
Gehazi adalah seorang pelayan, ketika sesuatu terjadi dia mengalami ketakutan yang luar biasa, tetapi ketika Elisa berdoa terbukalah mata Gehazi dan melihat  bahwa ada perlindungan Tuhan disekelilingnya.
2.       Kita akan menerima pernyataan Allah.
(Ayub 42 : 5) “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.”
Dulu Ayub mendengar hanya kata orang, tetapi setelah Ayub mengalami kondisi yang sangat tidak menyenangkan maka dia benar-benar merasakan penyertaan Tuhan dan pembelaan yang luar biasa.
3.       Kita menyerahkan hati kepada Allah.
(Matius 5 : 8) “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
Di sini ada kata “yang suci hatinya” adalah mereka yang telah dibebaskan dari kuasa dosa oleh kasih karunia Allah, dan kini berusaha tanpa tipu daya untuk menyenangkan dan memuliakan dia dan menjadi sama seperti dia.
4.       Menaruh percaya kepada Allah.
(Ibrani 11 : 27) “Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan.”
Musa rela keluar dari zona nyaman yang selama ini dia rasakan dan tinggalkan Mesir dan segala fasilitas yang selama itu dia nikmati, dia mulai percaya sepenuhnya kepada Tuhan.
5.       Kita akan menerima kehebatan kuasa Allah.
(Efesus 1 : 18) “Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus,”
Tentunya masing-masing punya pengalaman yang berbeda, masalah penderitaan, tekanan hidup, problema, kekuatiran, dll. Tuhan tahu porsi kekuatan kita, walau demikian kita harus tetap percaya kehebatan Tuhan, karena Tuhan yang punya kuasa dan kuasanya itu sanggup mengatasi segala kondisi yang sedang terjadi dan yang sedang kita hadapi sepanjang hidup kita tetap memandang keajaiban dan kuasa Tuhan dalam kehidupan ini.Amin


Tampilan baru "WARTA JEMAAT"

Berikut tampilan "WARTA JEMAAT" GPdI Sorengan 2015 :

Halaman Depan & Belakang


Halaman Isi

Saturday, July 25, 2015

Pelantikan Panitia Natal 2015

Tema Natal GPdI Sorengan Tahun 2015 :
"TUHAN PENJUNAN, AKU TANAH LIAT"
Yeremia 18 : 6

Susunan Kepanitiaan :
v  Ketua              : Bpk.Aditya
v  Sekretaris        : Sdri.Ana
v  Bendahara       : Sdr.Yulius
v  Seksi-seksi       :
ü Keresmian                                                : Sdr.Stefanus
ü Publikasi-Dekorasi-Dokumentasi            : Bpk.Wahyu
ü Musik                                                       : Sdr.Elya
ü Perlengkapan                                            : Bpk.Rusdi
ü Usher                                                        : Bpk.Bambang
ü Konsumsi                                                 : Ibu Puji
ü Kolektan                                                  : Sdr.Arif & Sdr.Andre
ü Keamanan                                                : Bpk.Timotius
Telah dilantik dan didoakan oleh : Ibu Gembala Arny Masrutti & Bpk.Pdt.Paulus Yatno pada minggu 19.Juli.2015.


Kehidupan Orang Percaya Harus Lebih Baik Dari Orang Lain

Matius 5 : 20
Pdt. Paulus Yatno
“20. Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.”
Dalam bacaan firman allah saat ini kita tahu dengan jelas bahwa kebenaran orang-orang farisi dan para ahli taurat hanya bersifat lahiriah. Mereka menaati banyak peraturan, berdoa, memuji Tuhan, berpuasa, dan baca firman Allah.  Tapi kebenaran yang dikehendaki Allah dari orang percaya lebih dari itu, hati dan roh seseorang harus selaras dengan kehendak Tuhan.
Dalam hal apa orang percaya harus beda dengan orang lain?
1.      Marah (ayat 21-22)
“21. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.22. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.”
Tidak dapat dipungkiri bahwa kecenderungan manusia saat marah pertama adalah berkata-kata buruk terhadap orang lain. Yesus tidak pernah berbicara mengenai kemarahan yang selayaknya terhadap orang yang fasik dan tidak adil, tapi yang disalahkannya adalah kemarahan yang mendendam dan mengutuk orang lain.
2.      Melukai Orang Lain(ayat 23-24)
“23. Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,24. tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Kadang kita tidak sadar bahwa kita sedang berkata-kata dan melukai orang lain yang ada di sekitar kita. Jika kita melukai orang lain kita harus secepatnya memulihkan hubungan dengan orang yang kita sakiti itu. Jangan sampai menyimpan akar pahit.
3.      Menjaga Kesucian(ayat 28-30)
‘’ 28. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.”
Dewasa ini banyak yang percaya di satu sisi mereka berbakti di gereja dan melakukan banyak hal yang berbau rohani. Tapi melakukan perzinahan bukan hanya secara jasmani, tapi misalnya dating kepada dukun, atau ketempat-tempat keramat untuk minta pertolongan.
4.      Berkomitmen(ayat 33-37)
“33. Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. 34. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, 35. maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; 36. janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambutpun. 37. Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”
Itu merupakan janji atau sumpah, jadi kata hati harus sama dengan mulut, jika berbeda berarti kita berada dalam kuasa si jahat.
5.      Melawan Yang jahat( ayat 39-41)
“39. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. 40. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. 41. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.”
Hal penting yang Tuhan ingin kita lakukan yaitu menggunakan kebaikan utuk membalas orang lain. (Roma 12 : 19-20).
“19. Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. 20. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.”
Bukan manusia yang berhak membalas, tetapi Tuhan yang mempunyai hak untuk membalas kejahatan manusia.
6.      Mengampuni (ayat 43-44)
“43. Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. 44. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Yesus tidak menentang pelaksanaan keadilan yang semestinya atas mereka yang melakukan kejahatan, tapi yang dia maaksudkan adalah kita dituntut harus bisa mengasihi musuh. Apabila kita diperlakukan secara tidak adil kita jangan membencinya, tapi harus menunjukkan reaksi yang memperlihatkan bahwa kita memiliki bahwa kita memiliki pendirian yang bermuara pada Kristus dan kerajaanNya.
Mengampuni memmang hal yang sulit dan berat dilakukan. Tetapi itu merupakan syarat yang mutlak bagi orang percaya. Sikap semacam itulah yang akan menyebabkan banyak orang menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat.Amin.


Lewat setiap pengalaman perjumpaan kita dengan orang lain, Tuhan menempa iman kita untuk menjadi sekuat baja.

Upah Dari Sebuah Pengampunan

Lukas 23 : 33-34
Pdt. Matias witono

“33. Ketika mereka sampai di tempat yang bernama Tengkorak, mereka menyalibkan Yesus di situ dan juga kedua orang penjahat itu, yang seorang di sebelah kanan-Nya dan yang lain di sebelah kiri-Nya.34. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." Dan mereka membuang undi untuk membagi pakaian-Nya.”
Dari perkataan Yesus di kayu salib ini, apakah kita benar-benar percaya kalau kita sudah mendapat pengampunan dari Tuhan.? Peristiwa penyaliban Yesus adalah suatu kondisi yang sangat menyakitkan yang tidak gampang diterima oleh semua orang. Di tengah rasa sakit Ysus tidak pernah mengeluarkan kata-kata buruk, tapi justru perkataan yang memberkati, padahal sebenarnya manusia harus dihukum atas pelanggaran dan dosa-dosanya.
Roma 3 : 23 “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah,”
Tetapi Tuhan mencintai manusia sehingga oleh kasih karuniaNya, manusia dibenarkan dengan cuma-cuma karna penebusanNya.
Roma 6 : 23 “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.”
Ysus bukan pribadi yang suka menyimpan kepahitan, walau kita sudah berbuat dosa, tetapi kasih karunia dan pengampunanNya telah memungkinkan kita sampai hari ini, kitapun akan belajar mengampuni seperti Dia.
Effesus 4:29-31 “29. Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.30. Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.31. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.”
Orang yang sulit melepaskan pengampunan adalah orang yang sedang mengalami kepahitan yang berkepanjangan, dan orang yang tidak mau mengampuni sama dengan sedang menggendong orang yang menyakiti kita, akhirnya kita selalu merasa berbeban berat dan sakit-sakitan.
Ibrani 12 : 15 “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.”
Akar yang pahit ini menunjuk kepada jiwa dan sikap yang ditandai oleh kebencian dan kemarahan yang mendalam. Setiap perkataan yang keluar dari mulut seorang ada yang bisa memberkati ataupun melemahkan orang.
Hari ini Tuhan ingin kita menjadi pribadi seperti merpati yang tidak menyimpan empedu yang pahit dan menyakiti orang lain. Melainkan mempunyai sikap tulus dan setia yang mau mengampuni sesame, karena saat kalimat pengampunan diucapkan, maka saat itu pula berkat dan pertolongan Tuhan sedang terjadi dalam hidup kita, karena itu merupakan upah dari sebuah pengampunan yang tengah kita kerjakan. Amin.


“Di satu sisi, musuh itu menjengkelkan, tapi di sisi lain dia bisa membuat kita peka tehadap jalan Tuhan.”