IBADAH + PERAYAAN NATAL

28 Desember 2014

IBADAH MALAM NATAL

24 Desember 2014

GPdI SORENGAN AWARD

24 Desember 2014

LOMBA-LOMBA MENYAMBUT NATAL 2014

14-21 Desember 2014

Saturday, April 11, 2015

Pergi ke Galilea

Matius 28:1-11
Minggu,  5 April 2015
Oleh : Ibu Gembala Victoria Arny M

“1. Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. 2. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. 3. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. 4. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. 5. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: "Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. 6. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. 7. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu." 8. Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus. 9. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. 10. Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." 11. Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.”
Berkali-kali kita membaca ayat ini dan kita belajar memaknai tentang  peristiwa kebangkitan Kristus.   Para wanita yang mengasihi Tuhan pagi-pagi pergi ke kubur Yesus dengan membawa rempah, karena jika pergi pada siang hari takut diketahui orang-orang yang tidak suka dengan Tuhan Yesus. Galilea adalah tempat terdepan, maka prajurit yang berperang pasti tertembak duluan karena di depan. Galilea juga gambaran cicin Tuhan/ lambang otoritas yang tidak bisa dipakai oleh sembarang orang.
Yohanes 2:19 “Jawab Yesus kepada mereka: "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali."”
Mereka berpikir itu tidak masuk akal, nenek moyang mereka saja membangun dalam tempo 46 Tahun, mana mungkin bisa diselesaikan dalam tempo 3 hari.
Yesaya 25:8 “Pada waktu itu orang akan berkata: "Sesungguhnya, inilah Allah kita, yang kita nanti-nantikan, supaya kita diselamatkan. Inilah TUHAN yang kita nanti-nantikan; marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita oleh karena keselamatan yang diadakan-Nya!"”
Bagi orang yang ada di dalam Yesus, mati bukanlah hal yang menakutkan karena di dalam kerajaan surga yang akan datang , kesedihan, kesusahan, dan air mata akan disingkirkan dan tidak akan terjadi lagi.
1 Korintus 15:55-58 “55. Hai maut di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?" 56. Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat. 57. Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. 58. Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Disaat kita mau maju/giat dalam pekerjaan Tuhan, selalu ada tantangan yang siap menghadang dan menghambat perjalanan iman kita.Mungkin kita pernah berada di posisi yang paling rendah, bagai berada di ujung tanduk yang siap menyakiti dari berbagai sisi. Tapi kita dapat belajar dari wanita-wanita yang berjalan menuju kubur Yesus, mereka tidak hanya berkorban harta benda, tapi juga berkorban waktu dan mereka tetap setia walau Yesus sudah mati.

Mungkin kita juga pernah menghadapi musibah yang bagaikan batu yang sngat besar yang sulit untuk ditembus atau digulingkan. Jangan takut karena kuasa kebangkitan-Nya sanggup memulihkan dan memberi kemenangan sepanjang kita tetap setia kepada-Nya sampai selama-lamanya. Amin

Sikap Dalam Bait Allah

Matius 21 : 12-17
Oleh : Ibu Gembala
Minggu, 29-Maret-2015

“12. Lalu Yesus masuk ke Bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpat i13. dan berkata kepada mereka: "Ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa. Tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun." 14. Maka datanglah orang-orang buta dan orang-orang timpang kepada-Nya dalam Bait Allah itu dan mereka disembuhkan-Nya. 15. Tetapi ketika imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat melihat mujizat-mujizat yang dibuat-Nya itu dan anak-anak yang berseru dalam Bait Allah: "Hosana bagi Anak Daud!" hati mereka sangat jengkel, 16. lalu mereka berkata kepada-Nya: "Engkau dengar apa yang dikatakan anak-anak ini?" Kata Yesus kepada mereka: "Aku dengar; belum pernahkah kamu baca: Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu Engkau telah menyediakan puji-pujian?" 17. Lalu Ia meninggalkan mereka dan pergi ke luar kota ke Betania dan bermalam di situ.”
Dari semua pembacaan firman Allah hari ini kita dapat belajar sedapat mungkin untuk bersikap benar saat berada dalam bait Allah.
Peristiwa itu merupakan kedua kalinya Yesus memasuki bait suci dan melenyapkan segala macam ketidakbenaran. Setiap orang yang menyandang nama Yesus harus tahu bahwa sikap dan tindakan-tindakan yang kurang hormat dalam rumah Tuhan akan mendatangkan hukuman dan murka Allah.
Penyamun adalah gambaran perampok yang mengambil hak orang lain yang bukan haknya. Lalu bagaimana sikap yang harus kita lakukan saat kita masuk dalam bait Allah ?
1.       Menghormati hadirat Allah.
Ibrani 9 : 24 ” dan Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.”
Masalah rutinitas/kebiasaan datang ke gereja hanya kita sendiri dan Tuhan yang tahu, tetapi jika kita lakukan dengan sungguh bukan orang lain yang beruntung tapi kita, karena itu adalah kepentingan kita.
2.       Memuji-muji Allah
Mazmur 66 : 17 “Kepada-Nya aku telah berseru dengan mulutku, kini dengan lidahku aku menyanyikan pujian.”
Bukankah kita tahu bawha Allah tidak hanya bertahta disurga, tetapi juga bertahta diatas pujian kita? Dan jika kita percaya diatas pujian kita ada kuasa, membangkitkan semangat, memotivasi, dan mendatangkan mujizat yang kita perlukan.
3.       Merindukan kuasa-Nya
1 Korintus 4 : 20 “Sebab Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa.”
Kerajaan Allah menyatakan dirinya dalam kuasa, demikian juga warga kerajaan surga yaitu kita harus memiliki lebih dari sekedar mendengar pembicaraan/berita, tetapi juga harus mengalami/menyatakan adanya kuasa roh kudus.

Sejauh ini bagaimana sikap kita saat memasuki bait Allah? Sudahkah Tuhan disenangkan lewat sikap hidup kita/sebaliknya? Ingatlah Yesus adalah Tuhan atas gerejaNya dan ia meminta agar gerejaNya menjadi rumah doa.Amin

Memberi Dengan Tulus

Lukas 14 : 12-14
Oleh : Ibu Gembala
Minggu, 22 Maret 2015

“12. Dan Yesus berkata juga kepada orang yang mengundang Dia: "Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau pula dan dengan demikian engkau mendapat balasnya.13. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta.14. Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar."”
Ketulusan dan kejujuran sangat sulit ditemukan sekarang ini, secara rohani akan kita hubungkan dengan firman Allah, walaupun pada mulanya perumpamaan ini diterapkan kepada bangsa Israel. Tetapi dapat juga kita terapkan kepada gereja Tuhan/orang percaya di masa kini. Mengenai kerendahan hati, orang yang rendah hati tidak akan mudah tersulut oleh emosi.
Lukas 14 : 8-9 “8. "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu,9. supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah.”
Kalau kita memiliki kerendahan hati, maka tidak mudah dipermalukan walau mungkin kita berada dalam posisi rendah sekalipun. Karena Tuhanlah yang akan membalas.
“Kita akan melihat beberapa hal diatas”
1.       “Orang-orang miskin” pertanyaan yang tidak pernah dijawab adalah “siapa yang mau jadi orang miskin?” kalau mau jujur semua orang tidak akan mau, walaupun sekarang kita belum hidup kaya di mata manusia.
2.       “Orang-orang cacat” ini tentang kehidupan yang memiliki kekurangan. Setiap manusia masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan di bagian tertentu.
3.       “Orang-orang lumpuh” secara manusia kondisi seperti ini sangat tidak diperhitungkan oleh semua pihak karena hidupnya yang kurang beruntung.
4.       “Orang-orang buta” ini berbicara tentang orang-orang yang tidak dapat menikmati keindahan seperti yang orang-orang lain dapatkan/nikmati.
Pribadi semacam inilah yang  memiliki kerendahan hati.
1 Yohanes 3 : 17-18 “17. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya? 18. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”
Ini mengenai bagaimana kita belajar  menjadi orang-orang yang peka terhadap situasi jika memang perlu.
Lukas 6 : 38 “Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."”

Orang-orang yang memberi menurut kemampuan mereka untuk menolong orang lain yang membutuhkan, mereka akan menemukan bahwa kasih karunia Allah akan mencukupi kebutuhan mereka sendiri dan Allah juga akan mengukur pemberian kita. Sebagai imbalannya Tuhan akan memberi kepada kita ukuran berkat yang kita terima akan sebanding dengan kepedulian dan pertolongan yang kita berikan kepada orang lain, itulah janji Tuhan “ketika kita memberi dengan tulus”.Amin

Thursday, March 19, 2015

Gaya Hidup Orang Kristen

1 Petrus 4 : 7-11
Oleh : Ibu.Pdt.Arny Masrutti
Minggu, 15 Maret 2015

“7. Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.8. Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.9. Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut.10. Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.11. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”
Orang Kristen harus memiliki gaya hidup yang memancarkan kemuliaan, karena mengingat kesudahan segala sesuatu sudah dekat maka kita harus memandang kehidupan kita dari sudut kedatangan Kristus dan akhir dunia yang sudah dekat.
ü  Ayat 7
Saat kita berdoa bukan merupakan rutinitas/kebiaasaan, tetapi mengucapkan sesuatu yang penting kepada Tuhan.
Wahyu 3 : 11 “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.”
“kata Aku datang segera” ini menunjukan bahwa kedatangan Tuhan untuk mengangkat jemaatnya dari bumi ini akan menjadi cara untuk membebaskan jemaat termasuk kita, dan waktu yang ditentukan Tuhan berbeda dengan kita.
ü  Ayat 8
Kalau kita mengasihi, pasti tidak akan sengaja menyakiti orang yang kita kasihi.
1 Korintus 16 : 14 “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”
Kita harus melakukan sesuatu berdasar kasih sebab kalu dengan bersungut-sungut berarti kita sedang tidak mengasihi diri kita sendiri.
ü  Ayat 9
Tentang memberi tumpangan adalah merupakan perhatian kepada orang-orang yang membutuhkan.
Efesus 4 : 32 “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”
Alkitab mencatat tentang pengampunan, sikap mengampuni memang berat tapi ini merupakan suatu tuntutan yang mau tidak mau harus kita laksanakan bagi setiap orang percaya.
ü  Ayat 10
Melayani dengan baik.
Galatia 5 : 13 “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.”
Kita memang telah dipanggil untuk merdeka, tetapi kita jangan salah pergunakan kemerdekaan untuk hidup seenaknya, tetapi melayani seorang akan yang lain dengan kasih.
ü  Ayat 11
Sampaikanlah perkataan yang menguatkan bukan yang menyakiti dan mematahkan semangat, tetapi yang membangkitkan semangat dan memotivasi orang-orang yang membutuhkan dukungan kita.
Kita harus memiliki gaya hidup seperti Petrus, bahwa kenyataan itu menuntut “ komitmen” yang benar-benar harus ditindak lanjuti yaitu berdoa kepada Tuhan dengan giat setiap hari, saling mengasihi dengan sungguh-sungguh, memberi tumpangan, bersikap ramah terhadap orang lain, melayani sesama dengan kasih, dan melayani Tuhan sampai akhir hidup kita.Amin

“Pemberitaan yang baik harus dibarengi dengan sikap hidup yang baik pula, sehingga akan memberkati orang lain.”

Berjalan Menuju Sukses

Yosua 1 : 1-9
Oleh : Ibu.Pdt.Arny Masrutti
Minggu, 8 Maret 2015

“1. Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa itu, demikian:2. "Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.3. Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.4. Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.5. Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.6. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.7. Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi.8. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.9. Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi."”
Perjalanan kekristenan kita tidak selalu seperti jalan tol yang tanpa hambatan, tetapi ada kalanya kita melewati jalan yang berliku. Kita harus belajar menghadapi kehidupan ini seperti kehidupan Yosua.
1 Timotius 4 : 12 “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”
Kata jadilah teladan ini merupakan salah satu syarat yang paling penting untuk seorang pemimpin, yang terutama harus menjadi contoh dalam kesetiaan, kekudusan, dan ketekunan dalam kesalehan. Hidup kita akan berjalan dan menghadapi orang-orang yang ada disekeliling kita, jangan paksakan orang lain jadi seperti kita, tetapi kita dulu yang harus hidup  sesuai firman Allah dan menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, dan kasih. Orang yang mempunyai kasih bisa mengungkapkan rasa kasihnya dan memberi ketenangan.
Yosua 1 : 7
Orang kristen tidak boleh hidup sembarangan ketika akan bertindak, pikirkan dulu efek baik dan tidaknya. Jangan menyimpang kekanan/kekiri. Artinya tetap lurus di jalan Tuhan yang benar.
Kisah Para Rasul 27 : 22 “Tetapi sekarang, juga dalam kesukaran ini, aku menasihatkan kamu, supaya kamu tetap bertabah hati, sebab tidak seorangpun di antara kamu yang akan binasa, kecuali kapal ini.”
Ayat diatas mengajak kita untuk tetap bertabah hati untuk tetap takut Tuhan sampai siap menatap masa depan yang sukses.
Yosua 1 : 8
Perbincangkan Firman Allah, jangan hanya fokus merenungi nasib, kesusahan, dan kegagalan. Tetapi belajar menangkap kebenaran firman, merenungkan dan menerapkan dalam kehidupan keseharian.
1 Yohanes 5 : 3 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat,”
Perintah Tuhan sebenarnya tidak berat, tetapi kedagingan kita yang kadang menghambat, dan merasa tidak siap untuk melakukan perintah Tuhan. Justru sebaliknya kadang kita memaksa Tuhan untuk menuruti kemauan kita. Mulailah berjalan seiring dengan Tuhan dan perintah-perintahNya sampai hidup menuju sukses sebagaimana yang Tuhan janjikan bagi kita semua.Amin

“Jangan fokus pada besarnya kegagalan yang ada, sebab pada saat kita fokus pada semuanya itu maka kita akan sulit untuk meraih kesuksesan.”


Friday, March 6, 2015

Allah Menyertai Kita Sampai Kesudahan Zaman

Matius 28:16-20
Bpk Pdt. Matias Witono
1-Maret-2015

“16. Dan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus kepada mereka.17. Ketika melihat Dia mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu.18. Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.19. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,20. dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."”
Injil matius terdapat 28 pasal, dan ayat yang terakhir memerintahkan kita untuk menabur firman, sehinga dapat menjangkau jiwa-jiwa. Kata-kata ini merupakan amanay Agung Tuhan kepada seua pengikutnya dari setiap angkatan, dan Tuhan berjanji akan menyertai.
1. Kata “menyertai” adalah kuasa atau kesanggupan untuk mengatasi masalah yang terjadi.
2. Kata “menyertai” juga terbukti pada waktu Bangsa Israel berjalan keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian, mereka disertai Tuhan dengan tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari.
Kita juga dapat melihat para tokoh alkitab di perjanjian lama:
1.       Yabes (1 Tawarikh 4:9-10) “9. Yabes lebih dimuliakan dari pada saudara-saudaranya; nama Yabes itu diberi ibunya kepadanya sebab katanya: "Aku telah melahirkan dia dengan kesakitan."10. Yabes berseru kepada Allah Israel, katanya: "Kiranya Engkau memberkati aku berlimpah-limpah dan memperluas daerahku, dan kiranya tangan-Mu menyertai aku, dan melindungi aku dari pada malapetaka, sehingga kesakitan tidak menimpa aku!" Dan Allah mengabulkan permintaannya itu.”
Yabes dilahirkan dengan tidak nyaman, nama Yabes berarti kesakitan, orang bisa menjuluki dia sebagai anak pembawa sial yang menyusahkan banyak orang. Tapi Yabes tidak pernah mempedulikan apa kata orang lain. Dia tidak berniat mengubah namanya tetapi dia justru berdoa agar mendapat penyertaan dari Tuhan.
2.       Daud (Mazmur 23:1-4) “1. Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.2. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;3. Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.4. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”
Daud pernah melewati lembah kekelaman, tetapi Daud merasakan kehadiran yesus sebagai gembala yang baik, yang mampu membuat Daud tidak kekurangan, bisa membaringkan dirinya di rumput yang hijau, dibimbing ke air yang tenang, disegarkan jiwanya, dan dihinur kesusahan hidupnya.
3.       Yosua (Ulangan 31:6-8) “6. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." 7. Lalu Musa memanggil Yosua dan berkata kepadanya di depan seluruh orang Israel: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya.8. Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."”
Musa berpesan kepada Yosua sebagai generasi penerus, untuk meyakinkannya bahwa Tuhan akan menyertai dirinya.

Memang kadang dunia selalu memojokkan kita di sudut kekalahan dan menghabisi kita dengan timbunan keputusasaan. Mendesak detak jantung semakin kencang dalam kecemasan dan berputar di situ sampai tangan menyerah tanda setuju dengan kehancuran dan pemusnahan.
Tapi ingatlah, Allah yang disembah Yabes, Daud, Yosua dan kita semua adala Allah yang sama, yang akan menyertai kita sampai kesudahan Zaman.

“Tuhan akan senantiasa menyertai kita ke titik yang paling ngeri sekalipun”


Hikmat Allah

1 Korintus 1 : 18-31
Oleh : Ibu Pdt.Arny Masrutti
Minggu, 22 Februari 2015

“18. Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.19. Karena ada tertulis: "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan."20. Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan?21. Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil.22. Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat,23. tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan,24. tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.25. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.26. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.27. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,28. dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,29. supaya jangan ada seorang manusiapun yang memegahkan diri di hadapan Allah.30. Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.31. Karena itu seperti ada tertulis: "Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan."”
Di dalam salib ada dua hikmat, yaitu : hikmat dari Tuhan, dan hikmat dari dunia. Yesus sendiri telah melewati jalan salib, dan menahan diri dalam kehinaan tanpa perkataan.
1.       Mengenai orang Yahudi. Orang Yahudi adalah orang yang suka menuntut, Yahudi adalah bahasa religi dari agama Alkitab.
2.       Yunani adalah bahasa filsafat. Kita adalah orang –orang yang sudah dikuduskan dari anasir-anasir dosa, kita tidak perlu percaya dengan filsafat-filsafat yang tidak benar, karena kita sudah dibenarkan, dikuduskan, dan ditebus dari cara hidup yang sia-sia.
Berita tentang salib tidak hanya mencakup hikmat dan kebenaran, tetapi juga kuasa Allah yang aktif, yang diturunkan untuk menyelamatkan, menyembuhkan, dan mengusir setan-setan yaitu oleh kuasa Allah sendiri.
Paulus menekanan bahwa standar dan nilai Allah sangat berbeda dengan yang diterima oleh dunia. Allah sedang mengupayakan berakhirnya filsafat dan psikologi bersama segenap sistem dunia lainnya. Itu sebabnya saatnya kita menyerahkan diri untuk melayani.
Yesaya 55 : 8-11 “8. Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.9. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.10. Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,11. demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Kita harus merencankan sesuatu dengan menyerahkannya kepada Tuhan, karena rancangan dan jalan Allah tidak sama dengan rancangan manusia. Keinginan kita yang terbesar seharusnya hidup selaras dengan citra Tuhan kita, sehingga  segala sesuatu yang kita lakukan menyenangkan Allah yang kita layani.
Yeremia 9 : 24 ” tetapi siapa yang mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut: bahwa ia memahami dan mengenal Aku, bahwa Akulah TUHAN yang menunjukkan kasih setia, keadilan dan kebenaran di bumi; sungguh, semuanya itu Kusukai, demikianlah firman TUHAN."”
Kita tidak boleh membanggakan pengetahuan dunia ini, kemampuan manusia, atau kekayaan duniawi. Sebaiknya kita hanya boleh bermegah dan bersukacita karena hubungan pribadi kita dengan Tuhan, dan kasih karuniaNya yang memungkinkan kita hidup benar.
Semua nilai dunia ini akan hilang maknanya bila dibandingkan dengan pengenalan akan Allah. Nilai yang sesungguhnya terdiri atas penyerahan diri kita kepada Allah dan membiarkan Dia memenuhi kita dengan roh kudusNya.Amin

“Mempelajari apa yang belum dapat anda perbuat lebih penting dari pada mengetahui apa yang dapat anda perbuat.”